MY SUMMER LOVE STORY (Chapter 1)

MSLS cover

You meet one person, and your whole life change forever

-Unknown-

***

      Deburan ombak terdengar bagaikan musik opera riuh dikejauhan, wangi asin garam, walaupun tak terlalu pekat namun dapat tercium oleh hidung. Angin pantai musim panas bertiup kencang, mengibarkan genta-genta kecil di atap rumah berdenting bersatu dengan irama ombak.

Rumah itu, cukup dekat agar dapat mencium aroma asin laut namun cukup jauh untuk bisa tersapu ombak, berdiri kokoh dengan cat putih berkilauan tertimpa sinar matahari, dihiasi segaris kayu hitam pada bingkai pintunya. Atapnya melengkung dengan jendela-jendela besar berukir di setiap sisi rumah. Sebagian besar atap telah diganti menjadi kaca trasparant yang sanggup memasukan sebanyak mungkin sinar matahari yang diinginkan. Bunga-bunga bermekaran di taman samping dan dalam pot terakota di sepanjang teras.

Seorang gadis terpekur menatap semua keindahan rumah itu. Menikmati warna-warna tegas bunga eksotis yang memabukan. Bunga-bunga itu harus dipelihara, tentu saja— dan dengan telaten, kalau panas terus berlanjut dan hujan tidak juga datang, gadis itu tidak keberatan berkotor-kotor, apalagi kalau akhirnya ada imbalannya.

Melalui pintu kaca yang lebar ia memandang keluar pada air sebening kristal dalam kolam berbentuk lonjong. Itu pun membutuhkan perawatan, tapi menjanjikan imbalan juga. Ia sudah bisa membayangkan dirinya duduk di sebelah kolam itu, melihat matahari terbenam dengan wewangian bunga dimana-mana. Sendirian. Itu satu kecil, tapi bisa diterimanya.

“Aku sangat menyukainya Yesung-ah.” Gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan lebar yang bermandikan cahaya menyusul seorang pria yang telah lebih dulu masuk kesana.

Di ruang itu ada dua sofa berwarna krem di atas karpet biru besi. Perabotan yang lain berwarna hitam anggun dan cenderung maskulin. Gadis itu menyukai kekuatan dan gayanya. Ia tidak mau membuang waktu mencari cacarnya dan menerima rumah itu apa adanya.

Pria yang menemani gadis itu hanya tersenyum. Senyum manis yang dilengkapi gaya berpakaian yang bagus pula. Sebuah kaus putih dan celana belel, membuatnya tampak santai namun juga tampan.

“Bisakah aku menempatinya sekarang juga?” Tanya gadis itu lagi.

Senyum lebar Yesung menyebabkan wajah bulat kekanak-kanakannya berseri-seri. “Tentu saja. Apapun yang kau inginkan.” Tubuh laki-laki itu tidak bisa dikatakan tinggi, hanya sejengkal dari tinggi si gadis. Badannya tidak terlalu gemuk, amun juga tidak kurus. Olahraga yang sangat disukainya adalah melambai memanggil taksi atau pelayan yang seksi.

“Tapi kau belum melihat lantai dua.” Tambahnya.

“Akan kulihat saat aku membongkar barang.”

“Eun Hee-ya, aku ingin kau yakin.” Pria itu menepuk pelan pipi gadis yang berdiri dengan mata berbinar didepannya. “Aku tidak ingin kau menyesali tindakanmu beberapa hari kemudian.”

Gadis itu mengulurkan tangan da menepis tangan sepupunya itu. “Aku yakin tak akan menyesal. Apa kau yakin kau boleh menyewakan rumah ini padaku?”

“Demi sepupuku yang ingin mencari ketenangan dalam menulis novel? Tentu saja.” Suara Yesung sehalus wajahnya. Wajahnya terlihat santai namun penuh makna.

“Pemiliknya menggunakan rumah ini hanya saat dia senggang. Ia lebih suka ada yang menempatinya daripada kosong. Aku sudah mengatakan semua padanya sampai tiga bulan ke depan. Namun sayangnya aku ada pekerjaan di Jepang, jadi mungkin aku tak akan bisa banyak membantumu Song Eun Hee.”

“Kalau pemiliknya ingin rumah ini ditempati, maka berikan padaku surat perjanjian kontraknya, biar kutandatangani.”

“Kalau kau yakin.” Yesung mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya, membukanya dengan hati-hati dan mengulurkannya pada Eun Hee beserta sebuah pena perak bermonogram. Dengan mantap gadis itu membubuhkan tanda tangannya, dan mengeluarkan sebuah cek bewarna putih.

“Dua ratus lima puluh ribu won sebulan untuk tiga bulan?”

“Tambah lima puluh ribu won untuk jaminan kerusakan.”

Ne, benar.” Eun Hee berpikir dia sedang beruntung. Bisa menempati rumah semewah itu denga harga sewa yang sangat murah, bahkan sepupunya itu tidak meminta imbalan komisi padanya. “Apakah kau akan memberiku nomor telepon, alamat, atau apalah supaya aku bisa menghubungi pemiliknya kalau perlu?”

Yesung sesaat tampak bengong, namun segera merubah air mukanya dengan senyuman yang menawan khas dari wajahnya. “Aku telah menceritakan pemindahan sewa ini padanya. Jangan mengkhawatirkan apapun Eun He-ya. Ia yang akan menghubungimu.”

“Baiklah.” Eun Hee tidak akan mencemaskan hal kecil. Saat ini musim semi baru saja berlalu, ia punya rumah baru, proyek baru. Awal yang baru adalah hal yang baik di dunia ini. “Aku akan mengurus semuanya.” Ia menyentuh jambangan porselen besar. Ia akan memulai dengan mengisi jambangan itu dengan bunga-bunga segar. “Apa kau akan menginap?”

Cek tadi telah disimpan dalam saku jaketnya. Yesung menahan keinginan untuk menepuknya. “Aku sebenarnya ingin tinggal dan mengobrol, tapi karena kita telah menyelesaikan semua urusan, aku baiknya mengejar pesawat ke Jepang. Kau harus segera berbelanja Eun Hee-ya. Ada bumbu-bumbu di dapur, tapi tak banyak.” Sambil berbicara, Yesung menyeberangi ruangan kearah pintu utama. “Kunci-kunci ada di meja. Selamat bersenang-senang.”

“Pasti.” Gadis itu tadi tulus saat menawari pria itu menginap, namun entah mengapa perasaannya juga lega saat ia ditolak. “Yesung-ah gomawoyo. Aku benar-benar menghargai ini.”

Cheonman. Aku pergi dulu. Annyeong.”

“Hati-hati dijalan.” Eun Hee memandanginya keluar menuju Ferrari terbarunya yang sangat aerodimanis itu. Warna mobilnya sama dengan kausnya. Yesung duduk dibelakang kemudi,  lalu dengan malas melambai pada Eun Hee yang masih mematung di depan pintu. Lalu dalam sekejap gadis itu telah seorang diri.

Song Eun Hee berbalik masuk ke ruangan tadi dan memeluk dirinya sendiri. ia sendirian, dan harus mengurus dirinya sendiri. Ia sudah pernah melakukannya, tentu saja. Lagi pula, ia sudah berumur lebih dari dua puluh tiga tahun, dan telah melakukan berbagai perjalanan dan liburan sendirian, memiliki apartemen dan hidupnya sendiri. Tapi setiap kali ia memulai sesuatu yang baru, hal itu selalu menjadi petualangan yang menyenangkan.

Mulai hari ini… tanggal.. tanggal berapa sekarang? Eun Hee menggeleng. Itu tidak penting.  Mulai hari ini ia akan memulai karier yang baru. Song Eun Hee, sang novelis muda.

Kedengarannya bagus, pikir gadis itu. Hal pertama yang akan dilakukannya adalah mengeluarkan notebooknya dan mulai mengetik bab baru. Sambil tertawa renyah gadis itu memboyong seluruh kopernya yang berat ke lantai atas.

***

      Ia sangat lelah, dan senang sekali karena akhirnya bisa pulang. Tahap terakhir perjalanannya seakan tak pernah berakhir. Konser dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, dan melompat dari satu pesawat ke pesawat lain. Berada di rumah pantainya setelah enam bulan menjadi nomaden di berbagai macam hotel mewah, membuat gelombang kesenangan luar biasa menerpa hatinya.

Cho Kyuhyun mendarat di Incheon airport dengan dua koper besar berada ditangannya. Kilatan lampu blitz segera menerpa wajahnya begitu kaki panjangnya keluar dari pintu gerbang.

Kyaaaaaaa.. Kyuhyun oppa!” Teriakan penggemarnya memenuhi seluruh lobi bandara yang besar itu. Pria itu hanya memutar matanya dengan bosan.

Seorang laki-laki yang beberapa tahun lebih tua darinya menghampiri dan langsung membawanya pergi ke tempat aman.

“Mobilmu ada di parkir VIP, semua akses telah steril.” Bisik pria itu. “Dan ini kuncinya.” Tanpa mengucapkan sepatah kata, bahkan terima kasih, Kyuhyun menyambar kunci mobil dari tangan managernya, memberikan koper paling besar padanya, lalu setengah berlari, dengan koper kecil di tangan kiri, menuju tempat parkir VIP.

Ia memang telah mengatur supaya mobilnya diantar ke bandara, dan ketika akhirnya duduk di mobil, ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri. Perjalanan berjam-jam dari Franfurt ke Incheon tak ada artinya lagi. Penundaan dan ketidaksabaran telah terlupakan. Ia berada di belakang setir, dan dua puluh menit lagi akan parkir di jalur masuk rumahnya sendiri. Ia akan tidur di atas seprainya sendiri malam ini. Baru dicuci dan dikembalikan oleh Hong ahjumma, yang kata Yesung akan mempersiapkan rumahnya sebelum ia datang.

Kyuhyun merasa agak bersalah pada Yesung. Ia tahu ia telah mengusir laki-laki itu dari rumahnya sebelum kedatangannya, tapi setelah melakukan konser keliling dunia ini, ia sedang tidak ingin kedatangan tamu. Ia harus mengingatkan dirinya untuk menghubungi pria itu dan berterima kasih padanya karena telah mengurus rumahnya.

      Saatnya beristirahat, batin pria itu saat menatap garis hitam pintu utama rumahnya. Kuncinya yang berwarna silver berkilauan seakan memanggilnya untuk segera dibuka. Ia memasukan sederet nomor sandi kunci rumah hingga tombol indicator berubah dari merah menjadi hijau.

Kyuhyun mendorong pintu sampai terbuka, menyalakan lampu, dan memandang. Rumah. Betul-betul menyenangkan ada di rumah lagi, rumah yang dirancang dan dibangunnya sendiri, dengan uang pribadinya dan menuruti selera dan kenyamanannya.

Rumah. Rumah yang sama persis seperti— tidak, tidak sama persis seperti saat ia meninggalkannya, ia segera menyadarinya. Karena matanya perih akibat kelelahan, ia menggosok-gosoknya sembari memandangi ruangan itu. Ruangannya.

Siapa yang memindahkan jambangan berukir dari cina miliknya ke jendela dan meletakan bunga-bunga sedap malam di dalamnya? Dan mengapa mangkuk Meissen-nya ada di meja bukan di rak? Kyuhyun mengerutkan dahi. Dia laki-laki yang teliti, dan bisa melihat berbagai bunga kecil yang tidak berada pada tempatnya.

Dia harus berbicara dengan Hong ahjumma tentang hal itu, tapi ia tidak akan membiarkan beberapa gangguan kecil merusak suasana hatinya yang gembira karena telah tiba di rumah lagi.

Godaan untuk langsung ke dapur dan menuang minuman dingin sangat besar, tapi Kyuhyun percaya, hal terpenting yang harus dilakukan lebih dulu. Ia mengangkat koper kecilnya naik ke lantai dua, menikmati setiap detik ketenangan suasana dan kesendiriannya.

Ia menyalakan lampu-lampu kamar tidur dan langsung terpaku. Dengan sangat pelan, pria itu meletakan koper dan melangkah ke tempat tidur. Tempat tidurnya belum dirapihkan, sepreinya berantakan. Buffetnya, penuh wadah dan botol. Kamarnya wangi, bukan karena tangkai-tangkai mawar yang mengisi vas di setiap sudut kamar, tapi wangi wanita. Bedak, lotion, dan parfum. Tidak menusuk, tapi ringan dan mengusik.

Matanya menyipit saat ia melihat secarik kain berwarna di atas seprei bergaris-garis. Dan Kyuhyun pun memungut celana bikini yang sangat tipis dan sangat kecil itu.

Hong ahjumma? Kyuhyun menggeleng. Anni! Tidak mungkin wanita gemuk itu bisa memakai pakaian sekecil dan setipis ini, bahkan sebelah kakinya pun tak akan muat. Kalau Yesung punya tamu… Kyuhyun memegang bikini itu di bawah lampu. Ia bisa mentolerir kalau pria itu membawa wanita, tapi tidak melakukannya di kamarnya. Dan mengapa barang-barangnya belum dibereskan dan dibawa pergi.

Tiba-tiba muncul bayangan di otak pria itu, sosok wanita yang tinggi, ramping, seksi, mungkin sedikit banyak bicara, dan keras kepala. Wanita idaman Yesung, tapi menurut perjanjian mereka, rumah itu harus kosong dan rapi saat dia kembali. Tanpa berpikir, ia memasukan potongan bikini itu ke saku dan keluar untuk melihat apa lagi yang tidak berada pada tempatnya.

***

Eun Hee, dengan mata tertutup dan kepalanya bersandar pada tepi spa berwarna merah tua itu, sedang bersenandung sendiri. Hari ini sangat bagus. Ide kisahnya mengalir deras dari kepalanya. Dan tertuang dalam halaman-halaman begitu cepat hingga nyaris menakutkan.

Dan tokoh prianya. Memikirkannya saja sudah membuat Eun Hee tersenyum. Ia bisa melihatnya, seakan sang tokoh keluar dari imajinasinya dan masuk ke spa bersamanya. Rambutnya yang kecoklatan tebal, sedikit memerah tertimpa sinar matahari. Cukup panjang hingga bisa digenggam wanita. Tubuhnya langsing dan tegap, kulitnya seputih susu, dan wajahnya, menunjukan wajah khas asia yang tampan

Bibirnya ranum dan dapat tersenyum serta membuat jantung wanita berdebar-debar. Bibir itupun bisa merapat dan menimbulkan kesan tegas dan pemberani. Dan matanya. Sangat mempesona. Mata hazel yang hangat, membuat wanita sanggup menatapnya setiap saat.

Semua wanita korea jatuh cinta pada Lee Jong Ki. Dan Eun Hee sendiri senang dirinya juga agak jatuh cinta pada pria fiktif itu. Bukankah itu akan membuat si tokoh menjadi semakin hidup? Pikirnya saat busa sabun berputar-putar di sekitarnya. Kalau ia bisa melihat pria itu demikian jelasnya, dan jatuh cinta padanya seintens itu, bukankah itu berarti ia telah melakukan tugasnya dengan benar? Bahkan kalau ia berkonsentrasi dengan cukup keras, ia hampir bisa mendengar pria itu berbicara padanya.

“Apa-apaan ini?”

Dalam keadaan setengah sadar, Eun Hee membuka mata dan melihat wajah tokoh rekaannya. Jong Ki? Pikirnya. Bertanya-tanya apakah air panas telah merembes ke otaknya dan membuatnya rusak? Mulut Eun Hee ternganga dan ia memandangi pria itu.

Rambutnya memang lebih pendek, tapi tidak terlalu jauh berbeda dari Jong Ki. Eun Hee mengusap matanya sehingga kemasukan klorin, lalu mengerjap dan membuakanya. Laki-laki itu masih disana, sedikit lebih dekat sekarang. Suara mesin spa terdengar lebih keras begitu ia benar-benar sudah sadar.

“Apakah aku bermimpi?”

Mata Kyuhyun menyipit. Wanita itu bukan wanita murahan yang mungkin bisa dibawa Yesung, tapi gadis manis berambut cokelat. Namun, seperti apapun cantiknya dia, tidak seharusnya ia ada disini, di rumah ini. “Kau memasuki wilayah pribadi. Siapa kau?”

Suara itu. Ya Tuhan! Bahkan suaranya pun pas sekali. Eun Hee menggeleng dan berjuang menguasai diri. Ini abad kedua puluh, dan senyata apa pun tokoh-tokohnya di atas kertas, mereka tak mungkin menjelma hidup-hidup, mengenakan kemeja mahal. Faktanya adalah ia sendirian bersama orang asing dalam posisi yang sangat rentan.

Gadis itu bertanya-tanya dalam hati, seberapa jauh ia mengingat pelajaran bela dirinya, lalu memandang bahu lebar pria itu lagi, dan memutuskan ilmu yang ia dapat belum memadai.

“Siapa kau?” Perasaan takut membuat suaranya mantap. Ibunya pasti bangga kalau mendengarnya.

“Kaulah yang harusnya menjawab pertanyaan itu Agassi,” jawab pria itu. “Tapi aku Cho Kyuhyun.”

“Cho Kyuhyun?” Gadis itu berpikir sejenak. Hendak berdiri dari spa, namun ingat tak memakai sehelai kain pun, sehingga akhirnya tetap meringkuk didalamnya. “Ah! Penyanyi yang sedang naik daun itu. Yang sedang menjadi idola remaja. Ternyata kau jauh lebih pendek dari yang aku lihat di TV.”

Kyuhyun tersenyum kecut. “Terima kasih atas pujiannya. Sekarang..”

“Tapi apa yang artis terkenal seperti mu lakukan disini?”

Mata pria itu menyipit, dan emmbuat Eun Hee sediit bergidik karena melihat sorot berbahaya dari sana. “Justru itu yang akan menjadi pertanyaanku. Ini rumahku.”

“Rumahmu?” Eun Hee mengusap mata dengan punggung tangan sambil berusaha berpikir. “Anda kenalan Yesung?” Karena lega, Eun Hee tersenyum lagi. “Yah, segalanya jadi jelas kalau begitu. Tapi saya tidak menyangka anda akan langsung datang kesini, Yesung bilang anda akan menelepon.”

Lesung pipi muncul di sudut mulut Eun Hee saat ia tersenyum. Kyuhyun melihatnya, lalu mengabaikannya. Ia laki-laki “lurus” dan laki-laki seperti itu tidak akan menemukan wanita asing berendam dalam spa nya ketika ia pulang. “Tidak untukku. Aku akan mengulangi pertanyaanku lagi. Siapa kau?”

“Oh, mianhae. Eun Hee imnida.” Melihat alis Kyuhyun naik , Eun Hee tersenyum lagi dan mengulurkan tangan yang basah. “Eun Hee— Song Eun Hee. Sepupu Yesung.”

Kyuhyun melirik tangan yang basah dan penuh busa itu, tapi tidak menjabatnya. Ia takut jika ia melakukannya ia akan menarik wanita itu keluar dari bathtub. “Dan kenapa, Song Eun Hee agassi, kau ada di dalam spa-ku, dan tidur di tempat tidurku?”

“Itu kamar anda? Jongsohamnida, Yesung tidak mengatakan kamar mana yang boleh saya tempati, jadi saya tidur di kamar yang paling saya sukai. Ia ada di Jepang sekarang. Anda sudah tahu?”

“Aku tidak peduli ia di mana.” Kyuhyun biasanya bisa bersabar. Setidaknya begitulah keyakinannya. Sekarang ini ia tak punya kesabaran sedikit pun. “Yang ingin kuketahui adalah mengapa kau ada di rumahku.”

“Oh, saya menyewanya dari Yesung. Tidakkah dia memberitahu Anda?”

“Kau… Apa?”

“Anda tahu, sulit bicara di antara suara mesin ini. Tunggu.” Eun Hee mengangkat tangan sebelum Kyuhyun sempat menekan tombol Off. “Saya, ah.. baiklah, saya tidak sedang menunggu siapa-siapa tadi, jadi saya tidak berpakaian dengan pantas. Apakah Anda keberatan?”

Kyuhyun otomatis menunduk, memandang ke tempat air begolak panas dan cepat di antara dada Eun Hee. Ia menggertakan gigi. “Aku akan berada di dapur. Cepatlah.”

Eun Hee menghembuskan napas panjang saat sudah sendirian. “Baiklah Yesung, kau dalam masalah,” ia menggerutu saat keluar dari bathtub dan mengeringkan tubuh.

***

      Kyuhyun mengambil sebotol soju dari dalam lemari es. Mungkin ada laki-laki yang senang ketika menemukan wanita tanpa busana di kamar mandi mereka waktu pulang setelah lelah bernyanyi berkeliling dunia. Sayangnya, Kyuhyun bukan salah satunya. Ia minum banyak-banyak saat bersandar di meja. Tentu saja, pikirnya, ini hanya soal bertindak selangkah demi selangkah. Dan langkah pertama adalah mengusir Song Eun Hee.

“Cho Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menoleh dan melihat gadis itu memasuki dapur. Ia masih agak basah. Kakinya putih dan ramping serta cukup panjang, pikirnya. Kelihatan hanya sebatas paha karena tertutup mantel handuk warna-warni. Rambut cokelat panjangnya tergerai lurus menjuntai sampai melewati bahunya. Gadis itu tersenyum, dan lesung pipinya muncul lagi. Kyuhyun tidak yakin menyukai pemandangan itu. Saat gadis itu tersenyum, rasanya ia bisa membuatmu membelikan seluruh bunga yang ada di pulau name.

“Sepertinya kita harus membicarakan sepupumu.”

“Yesung.” Eun Hee mengangguk, masih tersenyum, dan duduk di bangku rotan bar untuk sarapan. Ia telah memutuskan bahwa ia akan memperoleh hasil yang terbaik jika bersikap santai dan tenang. Kalau laki-laki itu sampai berpikir ia gugup dan ragu, sebenarnya gadis itu tidak ingin membayangkannya, tapi mungkin saja itu akan terjadi, dia harus berdiri di luar rumah sambil menenteng tas. “Ia orang yang unik, bukan? Bagaimana anda bisa kenal dengannya?”

“Dikenalkan teman.” Kyuhyun nyengir. “Saat aku butuh seorang penjaga, temanku mengusulkan Yesung. Aku kenal dengan salah satu bibinya…”

“Bibi?”

“Song Haesa.”

“Oh, Haesa ahjumma. Ia saudara ayah saya.” Kali ini lebih dari sekadar senyuman. Sinar geli berbinar di mata Eun Hee. “Ia wanita yang menarik.”

Ada yang aneh, terlalu aneh, dalam komentar itu. Kyuhyun memutuskan untuk mengabaikannya. “Dia pernah membuatkanku pakaian untuk acara tv ku. Dan sebelum aku pergi untuk konser duniaku dia merekomendasikan Yesung untuk menjaga rumah ini.”

Eun Hee menggigit bibirnya gugup. “Ia tidak menyewa rumah ini dari Anda?”

“Menyewanya? Tentu saja tidak.” Eun Hee menggerak-gerakan tangannya dengan gelisah. Kyuhyun mengamatinya dan memperingatkan dirinya sendiri. Jangan terlibat dengan perasaan. Suruh ia berkemas dan pergi. Tak perlu penjelasan, tak perlu permintaan maaf. Kau bisa naik ke tempat tidur sepuluh menit lagi. “Itukah yang dikatakannya padamu?”

“Saya rasa lebih baik saya ceritakan saja semuanya. Bolehkah saya minta minuman itu?”

Saat gadis itu menunjuk gelasnya, Kyuhyun hampir membentaknya. Sejak kecil dia tak terbiasa untuk berbagi minuman yang tengah ia minum dengan orang lain. Tanpa bicara, Kyuhyun mengambil sebotol lagi soju, meletakan di hadapan gadis itu lalu duduk di hadapannya. “Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bisa menyingkat ceritamu.”

“Baiklah,” Eun Hee minum seteguk, lalu memeluk dirinya sendiri. “Yesung menghubungi saya minggu lalu. Ia mendengar dari keluarga kami kalau saya sedang mencari rumah yang sepi untuk ditinggali selama beberapa bulan selama saya menulis novel saya. Saya seorang penulis, asal anda tahu.” Ucap Eun Hee sedikit bangga. Karena ceritanya tak ditanggapi, ia minum lagi dan melanjutkan, “Lalu, Yesung bilang ia punya tempat. “Lalu dia bilang, ia punya tempat yang mungkin sesuai dengan saya. Ia mengatakan bahwa ia menyewa rumah ini, dan ingin saya yang melanjutkan sewanya, karena, yah.. anda tahu dia sedang pergi ke Jepang.” Eun Hee menarik nafas panjang. “Dan saya menandatangani perjanjian sewa. Tiga bulan. Saya memberi Yesung uang untuk uang sewa, di muka, ditambah uang jaminan kerusakan.”

“Sayang sekali.” Kyuhyun tak mau mengasihani gadis itu. Terkutuklah ia kalau berbuat begitu. “Kau tidak membuat perjanjian sewa dengan pemiliknya.”

“Mungkin bisa saya koreksi. Dengan orang yang mewakilimu. Dengan orang yang saya kira wakilmu.” Eun Hee melihat Kyuhyun sama seklai tidak tersenyum. Sedikitpun tidak. “Dengar, Cho Kyuhyun-ssi. Jelas-jelas Yesung telah mengambil keuntungan dari kita berdua, tapi pasti ada jalan keluarnya. Yang tiga ratus ribu won…”

“Tiga ratus ribu won?” Ulang Kyuhyun. “Kau membayarnya tiga ratus ribu?”

“Ya, memang sangat murah untuk rumah semewah ini. Maka dari itu aku tertarik. Mungkin aku bisa akan mendapatkan separuh uang itu dari paksaan keluargaku. Tapi masalah utamanya adalah bagaimana mengatasi situasi ini.”

“Situasi apa?”

“Kehadiranku di sini, dan kehadiranmu.”

“Gampang.” Kyuhyun mengetukan jarinya di atas meja. Tidak ada alasan, benar-benar tidak ada alasan ia merasa bersalah karena gadis itu kehilangan uangnya. “Aku akan merekomendasikan beberapa hotel yang sangat bagus.”

Eun Hee tersenyum lagi. Ia yakin Kyuhyun bisa melakukan itu, tapi ia tak mau tinggal di hotel. Lesung pipinya masih sangat Nampak, tapi kalau Kyuhyun memperhatikan dengan jeli, mata cokelat lembut gadis itu telah penuh tekad.

“Itu akan menyelesaikan masalahmu, tapi tidak dengan masalahku. Aku punya surat perjanjian sewa.”

“Kau punya sepotong kertas yang tak berarti.”

“Sangat mungkin.” Eun Hee turut mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja saat menimbang-nimbang. “Kau pernah belajar tentang hukum?”

“Tidak terlalu mengerti.”

“Aku tidak menyukainya, dan kupikir mungkin sulit, atau lebih buruk lagi, menjengkelkan, jika kau melemparku keluar.” Ia memutar-mutar botol sojunya. “Tentu saja, kalau kau ingin meminta surat perintah pengadilan dan membawa masalah ini ke pihak yang berwenang, menyeret sepupu saya, Yesung, kau bisa menang. Aku yakin begitu. Tapi saat ini?” Eun Hee melanjutkan sebelum Kyuhyun dapat menemukan kata-kata yang tepat, “Aku yakin kita dapat mencari penyelesaian yang lebih cocok untuk semua orang. Kau pasti lelah.” Eun Hee mengubah nada bicaranya menjadi sangat lembut sehingga Kyuhyun hanya bisa menatapnya. “Bagaimana kalau kau naik saja dan tidur nyenyak? Semua akan lebih jelas setelah tidur nyenyak, bukan? Kita bisa membahas semua ini besok.”

“Ini bukan soal bahas-membahas, agassi. Ini masalah kau mengemasi barang-barangmu.” Kyuhyun memasukan tangan ke saku, dan jari-jarinya menyentuh secarik kain nilon. Sambil menggertakan gigi, Kyuhyun mengelarkan bikini itu. “Ini milikmu?”

Ne, gamsahamnida.” Tanpa malu-malu, Eun Hee menerimanya. “Sudah agak larut untuk memanggil polisi dan menjelaskan semua ini pada mereka. Kurasa kau bisa melemparku, tapi aku yakin, kau akan membenci dirimu sendiri setelahnya.”

Eun Hee benar. Kyuhyun mulai berpikir bahwa selain dia sekeluarga, gadis itu punya banyak kesamaan dengan sepupunya. Licik. Ia melirik jam tangannya lalu mengumpat pelan. Sudah hampir lewat tengah malam, dan Kyuhyun tidak tega mendepak gadis ini ke jalanan. Lebih buruk lagi, ia begitu lelah hingga pandangannya tidak fokus dan ia tidak bisa memikirkan argument yang masuk akal. Jadi ia akan membiarkan gadis itu, untuk saat ini saja.

“Aku memberimu waktu dua puluh empat jam Song Eun Hee-ssi. Itu sepertinya lebih dari sekedar masuk akal bagiku.”

“Aku tahu kau laki-laki yang cerdas.” Eun Hee tersenyum pada Kyuhyun lagi. “Bagaimana kalau kau tidur saja? Aku akan mengunci pintu.”

“Kau menggunakan tempat tidurku.”

Nde?”

“Barang-barangmu ada di kamarku.”

“Oh.” Eun Hee menepuk dahi. “Baiklah, kurasa kalau masalah itu benar-benar penting bagimu aku bisa mengeluarkan semuanya malam ini.”

“Tak usah.” Mungkin semua ini hanya mimpi buruk. Halusinasi. Ia  akan bangun besok pagi dan menemukan semuanya berjalan sebagaimana biasanya. “Aku akan tidur di salah satu kamar tamu.”

“Ide yang lebih bagus. Kau memang kelihatan lelah. Tidurlah yang nyenyak.”

Kyuhyun memandangi Eun Hee selama semenit. Setelah pria itu pergi, Eun Hee tertawa. Oh, dia benar-benar akan membuat perhitungan dengan Yesung. Tapi sekarang, ini adalah hal terlucu dalam hidupnya, mimpi yang terlihat sangat nyata.

~TBC~

NB. Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari salah satu karya Nora Robert berjudul “Loving Jack”. Ceritanya bener-bener bagus dan bikin aku tergerak untuk membuat Loving Jack versi aku sendiri.

EA848DE285EDB2FC68FC9CDE7CA98C7C

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s